Tentang Aku, Kamu Dan Sahabatku
Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu
dan kamulah satu-satunya wanita yang selalu membuat hatiku berdebar tidak
karuan. Aku benar-banar jatuh cinta kepadamu.
entah, perasaan ini datangnya darimana. Yang jelas setiap waktu seluruh ingatanku selalu merekam hal tentang kamu. Mulai dari tawa lucumu dan senyum manismu.
entah, perasaan ini datangnya darimana. Yang jelas setiap waktu seluruh ingatanku selalu merekam hal tentang kamu. Mulai dari tawa lucumu dan senyum manismu.
Dan kuceritakan semua tentangmu kepada dia (sahabatku) lalu aku memohon kepadanya agar dia membantuku untuk mendapatkanmu. tapi semua itu tak seperti yang kubayangkan. saat aku ingin menyatakan cinta kepadamu, kulihat kau sedang bersama dia.
Entah, apa yang kalian lakukan disana? Tapi kulihat kau begitu senang bersama dia (sahabatku).
dan kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasaku padamu, lalu ku urungkan niatku untuk mengungkapkan rasaku padamu. dan pikiranku mulai kacau karna rasa keingin tahuanku. aku ingin sekali mendekat dan mendengarkan percakapan kalian, lalu sedikit demi sedikit aku mulai mendekatimu dan mendengarkan percakapan kalian.
Hatiku terkejut saat mendengar dia (sahabatku),
mengungkapkan cintanya kepadamu. Seluruh badanku panas seperti terbakar api dan
rasa cemburuku mulai bergejolak. tapi aku masih bisa mengontrolnya.
mungkin, aku sendiri tidak berhak untuk marah, atau bahkan merasa kecewa. Aku tidak pantas menyalahkan siapa-siapa. Apalagi, menyalahkan tuhan. Tuhan menitipiku perasaan yang salah, perasaan yang bisa dibilang sangat keliru. Ini bahkan tidak pantas untuk diperjuangkan. Jikapun diperjuangkan, pasti akan nada hati yang diam-diam luka.
mungkin, aku sendiri tidak berhak untuk marah, atau bahkan merasa kecewa. Aku tidak pantas menyalahkan siapa-siapa. Apalagi, menyalahkan tuhan. Tuhan menitipiku perasaan yang salah, perasaan yang bisa dibilang sangat keliru. Ini bahkan tidak pantas untuk diperjuangkan. Jikapun diperjuangkan, pasti akan nada hati yang diam-diam luka.
Aku tahu diri dan aku tahu ini salah. Aku tidak ingin
mengikuti egoku, dan juga aku tidak ingin memisahkan hati yang lebih dulu
bahagia. Mungkin sebagian pepatah mengatakan 'sebelum janur kuning melengkung, tidak
ada hal yang salah'. Tapi, ini taruhanya adalah sebuah perasaan. Sebuah hati
yang masih utuh. Aku tidak ingin mempermainkan perasaan siapapun. Menyakiti
hati siapapun.
Aku akan rela jika kamu bahagia dengan dia (sahabatku). Bahkan
aku tidak akan mengusik cinta siapa-siapa. Meski sebenarnya aku cinta. Aku
lebih memilih diam. Tanpa ingin memperjuangkannya. Terkadang kita memang harus
paham, ada cinta yang tidak pantas untuk kita miliki dan diperjuangkan. Ada
rindu yang dengan tragis di biarkan mati tanpa ingin bertahan. Dan itu aku. Aku
tidak ingin memperjuangkanmu, karena aku hanya hidup di dunia lain yang
kadang-kadang kamu temui. Bukan seperti dia yang bebas menikmati segala
senyumanmu dengan nyata. Dia yang bebas menikmati waktu luangnya. Bukan aku
yang menikmati sisa waktunya.
Aku tidak sedang menangis merintih. Sesak di dadaku
yang belum kunjung pulih. Aku akan tetap belajar bahagia dan aku akan
berjanji untuk tidak cengeng lagi. Aku akan berusaha untuk kuat menyembunyikan
semua duka setiap malamnya. Dan aku percaya, jika kita adalah lengan-lengan doa
yang Tuhan takdiri untuk bersama, nanti pada waktunya kita akan di persatukan
kembali. Iya, di pertemukan kembali.